Tampilkan postingan dengan label Tips Kerja Sehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Kerja Sehat. Tampilkan semua postingan

19 Oktober 2008

Carrier VS Family

Kerja dan keluarga adalah dua dunia yang sama sekali berbeda. Keduanya memiliki tuntutan peran dan kewajiban yang berbeda, yang seringkali menimbulkan problema dalam kehidupan. Namun, problematika ini sebetulnya adalah sesua tu yang wajar. Tugas anda hanyalah menyadari adanya feno mena tersebut dan menyiasatinya.

Pernahkah anda merasakan bahwa bekerja sambil menjalankan peran keluarga (domestik) itu sulit? Anda mungkin belum benar – benar menyadarinya. Tapi kami yakin bahwa mau tidak mau, sedikit ataupun banyak, pastilah terdapat konflik kepentingan diantaranya.

Demikianlah seperti yang dialami Yuni. Yuni adalah seorang guru musik dengan jam kerja yang relatif tinggi, sekitar 50-55 jam per minggunya, menikah dan dikaruniai 2 anak, masing – masing 7 dan 10 tahun. Sebenarnya, ia sangat senang akan pekerjaannya. Akan tetapi, kecintaannya pada pekerjaannya tersebut perlahan sirna seiring dengan bertambahnya tugas domestik (keluarga) yang diembannya. Sebelum menikah, ia merasakan adanya kebebasan yang absolut dalam bekerja, mengambil jam-jam lembur, tugas ke luar kota, dan kegiatan kantor lainnya.

Sebaliknya sekarang, segala keputusannya yang menyangkut pekerjaan benar-benar dipengaruhi oleh rasa tanggung jawab dan keterlibatannya dalam keluarga. Mau mengambil lembur sampai malam, langsung terpikirkan suami-anak di rumah. Mau ditugaskan keluar kota selama beberapa hari, langsung merasa keberatan karena takut rumah tangga tidak ada yang mengurus.

Apakah anda sudah mulai merasa fenomena ini secara sadar atau tidak sadar pernah anda alami? Kalau belum, apakah karena mungkin anda laki – laki, dan fenomena ini lebih masuk akal bila dialami oleh perempuan? Hal yang sama pun dialami oleh Joshua yang adalah seorang General Manager pada sebuah perusahaan asing. Sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan olehnya, mengingat istrinya adalah seorang ibu rumah tangga sejati, yang tidak bekerja, dan hari – harinya hanya dihabiskan untuk mengurus rumah tangga. Tapi yang terjadi adalah Joshua sering merasa bersalah pada dirinya sendiri. Rasa bersalah itu timbul karena ia sering pulang malam atau keluar kota sehingga jarang sekali bertemu dengan anak – anaknya. Rasa bersalah itu semakin besar karena ia seringkali membatalkan janji pada keluarga di saat – saat terakhir, karena ia harus mengurus pekerjaan. Joshua seringkali kehilangan moment – moment penting seperti langkah pertama anaknya, kata-kata pertama anaknya, ulang tahun perkawinan, makan malam bersama keluarga besar, sampai pada ulang tahunnya sendiri. Sepanjang hari selama 10 tahun terakhir ini memang Joshua jarang berada di rumah.

Dengan melihat kisah diatas, sebenarnya apakah yang terjadi? Mengapa setelah menikah, Yuni jadi sulit mengambil keputusan yang terkait dengan pekerjaan? Mengapa Joshua harus terus-terusan merasa bersalah terhadap keluarganya?

Fenomena ini dinamakan konflik kerja keluarga, yaitu konflik yang terjadi dikarenakan adanya tabrakan peran, tanggung jawab, kepentingan dan keterlibatan di area kerja dan keluarga. Konflik ini seringkali menyebabkan seseorang merasa bingung membagi waktu, merasa bersalah, bimbang, bahkan stress. Dengan demikian, mulailah mewaspadai fenomena ini. Jika anda merasa sudah mengalaminya, ada baiknya anda meluangkan diri untuk membuat sebuah prioritas dalam hidup, kerja – keluarga anda.

15 Oktober 2008

Sudahkan Anda Bekerja.. ??

Bekerja bukanlah sarana untuk mencari uang. Bekerja merupakan sarana untuk mewujudkan potensi diri serta sebagai sarana untuk mengekspresikan diri. Apa yang anda lakukan dalam pekerjaan anda merupakan cermin siapa diri anda sebenarnya. Siapa anda yang sesungguhnya akan nampak dari cara anda bekerja. Bekerjalah dengan kesungguhan hati karena anda bekerja bukan untuk perusahaan, anda bekerja untuk diri anda dan untuk pencipta anda. Bekerjalah dengan riang hati karena bekerja itu membawa nikmat, mendatangkan kebaikan dalam hidup anda.

Dengan memandang bekerja sebagai ibadah, jerih payahmu tidak akan sia-sia.

Mungkin pembaca menjawab, ya, saya sudah dan sedang bekerja. Apapun jenis pekerjaan anda, yang saya maksud disini adalah apakah anda sudah bekerja dengan sungguh-sungguh? Atau hanya sekedar bekerja saja? Lalu dimana bedanya?

Bekerja banyak yang mengartikan beraktivitas dan menghasilkan sesuatu dalam hal ini uang. Tapi disini kita mencoba mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam arti dari bekerja itu sendiri.

Bekerja sebenarnya bukan hanya sekedar melakukan aktivitas untuk menghasilkan uang, tetapi di dalam bekerja kita juga dituntut ada tanggung jawab moral. Yang dimaksud disini adalah kita tidak hanya datang dan melakukan tugas rutin kita dan setelah waktu habis kita akan pulang, tetapi dalam bekerja kita HARUS MEMIKIRKAN APAKAH TINGKAH LAKU DAN PERBUATAN KITA DALAM BEKERJA TIDAK MERUGIKAN ORANG LAIN.

Kalau kita hanya memikirkan uang dalam bekerja maka seringkali tanpa kita sadari kita akan menghalalkan segala cara untuk mendapat uang tersebut. Misal dengan datang terlambat, bekerja tidak melakukan sesuai dengan tugas dan target kita, menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan pribadi dan sebagainya. Kita tidak sadar atau karena sudah terbiasa menjadi tidak peka bahwa hal-hal yang kita lakukan tersebut merugikan orang lain. Kita tidak lagi memikirkan apakah yang kita lakukan tersebut merugikan orang lain, kita tidak akan peduli dengan ”kerugian” yang harus di derita orang lain.

Saat ini sudah waktunya kita berpikir dan merubah konsep kerja kita menjadi KERJAKU ADALAH IBADAHKU atau KERJAKU ADALAH DOAKU.

Agar dengan paradigma berpikir yang baru ini kita dalam bekerja tidak asal-asalan dan kita bisa menjadi professional dibidang kerja kita masing-masing. Memang di dalam dunia yang sudah dipenuhi dengan pola kapitalis, dimana uang adalah segala-galanya, konsep bekerja adalah ibadah terlihat sangat konseptual belaka. Tapi disini kita juga bisa merubah sedikit demi sedikit bentuk pengrusakan moral yang berlangsung selama ini di dunia kerja negara kita.

Jangan hanya bekerja untuk mencari uang. Tapi mari kita coba bekerja untuk juga berbuat bangsa ini menuju sesuatu yang lebih bermoral dan berakhalak, paling tidak kita mulai dari diri kita sendiri.


Selamat bekerja dan ingat akan Ibadah ...

13 Oktober 2008

Workaholic OR Hardworker

WORKAHOLIC ? NO !

HARDWORKERS ? YES !

Hardworker, Anda pasti ingat kata bijak, “Kesehatan itu mahal harganya.” Dan ”Apa gunanya seorang memiliki seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?”. Apa yang sudah diraih dengan kerja keras dan pengorbanan yang amat besar, bisa menjadi sia-sia apabila sakit – penyakit meng hancurkan kesehatannya.

Jadilah bijak dalam mengatur kehidupan anda. Ingat uang dan pekerjaan (bisnis) bukanlah segala-galanya. Anda bukan mesin atau robot. Bahkan mesin atau robot pun butuh istirahat dan perawatan khusus. Apalagi tubuh manusia! Sayangi tubuh dan keluarga anda. Bekerjalah lebih cerdas. Anda tetap bisa sukses tanpa harus mengorban kan kehidupan anda.

Usai menghadiri pemakaman Bima, rekan sekantornya, Iwan bercakap-cakap dengan Bambang. ”Kasihan ya si Bima, usia baru 38 th sudah meninggal kena stroke”. Kata Iwan. ”Aku sih tidak heran sebenarnya, kalo melihat caranya bekerja”. Sahut Bambang. ”Lho, memangnya kenapa Bang?” Tanya Iwan. ”Kamu tahu sendirikan, dia kalo bekerja kayak orang gila. Dia datang kekantor paling pagi jam 7, hunting klien, kemudian lembur, pulang jam 11-12 malam, kadang-kadang masih bawa pulang pekerjaan buat di lembur di rumah. Trus hari Sabtu dan Minggu yang mestinya buat istirahat, kumpul sama keluarga, malah dipake kerja seperti biasanya. Cutipun sudah hampir 15 thn ini, gak pernah diambilnya”. Papar Bambang. ”Koq kamu tahu mbang, sedetil itu.” tanya Iwan, terheran-heran. ”Iyalah, lha wong istrinya sama istriku teman kuliah dulu, jadi mereka saling curhat”. Jelas Bambang. ”Oo, jadi Bima itu kecenderungan kerja ya,…apa itu istilahnya, Mbang?” Tanya Iwan lagi. ”Workaholic!” Sahut Bambang.

Ya, kecanduan kerja atau workaholic, suatu istilah yang ditujukan bagi mereka yang sangat ”menikmati” bekerja sehingga lupa waktu, bahkan lupa segala-galanya. Orang yang kecanduan kerja tidak bisa membagi waktu hidupnya dengan tepat. Bisa lupa makan (pola makan tidak teratur), lupa istirahat (kurang tidur), waktu untuk bercengkrama dengan keluarga pun hampir (sudah) tidak ada. Jangan heran kalau kondisi kesehatan bisa-bisa menurun drastis pada usia yang masih relative muda.

Workaholic lebih berkonotasi negative. Walaupun seakan-akan produktifitasnya amat tinggi, tetapi pola hidup seperti demikian bisa berakibat merugikan dirinya sendiri dan keluarganya. Bekerja keras memang harus, tetapi jangan sampai kehilangan keseimbangan. Tubuh perlu istirahat yang cukup, apalagi dengan bertambahnya usia membuat daya tahan tubuh ikut mengalami penurunan. Olahraga juga berperan untuk menjaga agar badan tetap bugar. Pikiran dan Emosi kita secara berkala juga perlu mengalami penyegaran. Rekreasi atau bercengkrama dengan keluarga dihari Minggu bisa merefreshing kehidupan kita.

Bedakan Workaholic dengan Hardworker. Seorang Hardworker atau pekerja keras, juga menikmati saat-saat bekerja. Ia juga mengerahkan segenap kemampuan optimalnya dalam pekerjaan. Tetapi ia bisa menyeimbangkan kehidupannya. Hardworker tetap bisa membagi waktu antara bekerja, beristirahat, berolahraga, berekreasi dan berinteraksi dengan keluarga, dengan baik. Dengan demikian selain tetap produktif dalam pekerjaan, Hardworker bisa tetap menikmati hal-hal indah dalam kehidupan ini.

Bekerja untuk hidup, jangan hidup untuk bekerja



 

Copyright 2007 ID Media Inc, All Right Reserved. Crafted by Nurudin Jauhari